Stasiun tersebut pertama kali beroperasi pada 1904 sebagai bagian dari 28 stasiun awal sistem subway kota.
Operasionalnya dihentikan pada 1945 seiring modernisasi transportasi, sebelum akhirnya ditetapkan sebagai landmark Kota New York pada 1979 dan masuk Daftar Tempat Bersejarah Nasional Amerika Serikat pada 2004.
Dalam pernyataan terpisah yang dikutip The Guardian, tokoh progresif Letitia James menilai Mamdani memahami esensi kehidupan warga New York yang hidup berdampingan di tengah keberagaman kota.
“Kita semua menaiki kereta yang sama, menuju tempat-tempat yang jauh dan luas. Zohran memahami bahwa setiap warga berhak atas kota tempat mereka berkembang, apa pun jalur subway yang mereka gunakan,” ujarnya.
Usai prosesi privat, pelantikan publik digelar siang hari di tangga Balai Kota New York. Jaksa Agung New York, Letitia James yang memimpin pengambilan sumpah, Mamdani meletakkan tangannya di atas Al-Quran.
Dengan demikian, ia tercatat sebagai orang Asia Selatan pertama sekaligus Muslim pertama yang menduduki jabatan eksekutif tertinggi di kota terbesar Amerika Serikat tersebut.
Mamdani sebelumnya menegaskan komitmennya untuk mengatasi krisis biaya hidup yang membebani warga. Ia berjanji mendorong pembekuan harga sewa hunian, menghadirkan layanan bus gratis, serta memperkuat perlindungan bagi komunitas imigran di tengah dinamika kebijakan federal.
“Kemenangan ini adalah milik warga New York yang selama ini merasa suaranya terpinggirkan. Kami hadir untuk memastikan kota ini tetap terjangkau dan aman bagi semua, tanpa memandang latar belakang etnis maupun agama,” tegas Mamdani.
Meski disambut antusias oleh kelompok progresif, kepemimpinan Mamdani diperkirakan menghadapi tantangan besar.
Ia dituntut segera merealisasikan janji kampanye di bidang perumahan dan transportasi publik, sembari menavigasi hubungan politik yang dinamis dengan pemerintah federal di Washington DC.
Zohran Mamdani menggantikan Eric Adams dan akan memimpin New York selama empat tahun ke depan.
Sejumlah pengamat menilai masa kepemimpinannya akan menjadi ujian penting bagi gerakan sosialis demokrat dalam mengelola kota metropolitan dengan tingkat kompleksitas setinggi New York.
*(Khomsurijal W/DISWAY.ID)