JAKARTA. DMKtv,- Seorang ahli Iran mengatakan harga minyak bisa mencapai 150 Dolar AS per barel jika perang berlanjut 10 hari lagi.
Mahdi Arabsadegh, seorang ahli strategi energi senior yang berafiliasi dengan Institution of Engineering and Technology Iran, memprediksi bahwa harga minyak akan mencapai 150 Dolar AS per barel di pasar global jika perang antara AS dan Israel terhadap negara tersebut berlanjut selama 10 hari lagi.
Arabsadegh mengatakan kepada kantor berita Fars bahwa penutupan Selat Hormuz oleh Iran untuk “kapal musuh” telah mencegah lewatnya 21 juta barel minyak per hari sejak awal perang dan secara drastis memengaruhi pasokan dilansir dari Al Jazeera.
Ia mencatat bahwa harga minyak berada di angka 65 Dolar AS per barel sebelum selat itu ditutup, dan melonjak tajam menjadi 119 Dolar AS, meskipun ada upaya AS untuk menahan harga tetap rendah.
Hal ini termasuk keputusan pemerintahan Trump untuk mencabut sementara sanksi terhadap pembelian minyak Iran di laut selama 30 hari.
Trump mengeluarkan ultimatum 48 jam terkait Selat Hormuz dan mengancam pembangkit listrik Iran.
Teheran menanggapi ancaman Trump dengan mengatakan bahwa semua infrastruktur energi AS di kawasan akan menjadi target jika Iran diserang.
Di sisi lain, AS mengatakan telah melumpuhkan ancaman Iran di Selat Hormuz
Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengancam akan menyerang pembangkit listrik Iran jika kebebasan navigasi tidak sepenuhnya dipulihkan di Selat Hormuz dalam waktu 48 jam, sebuah eskalasi dramatis ketika perang AS-Israel terhadap Iran memasuki minggu keempat.
Pernyataan pada hari Sabtu itu muncul saat Trump menghadapi tekanan yang meningkat untuk mengamankan jalur air penting tersebut, yang dijanjikan Iran akan tetap ditutup bagi “kapal musuh”, sehingga menyebabkan harga minyak melonjak dan pasar saham merosot.
“Jika Iran tidak SEPENUHNYA MEMBUKA, TANPA ANCAMAN, Selat Hormuz dalam waktu 48 JAM sejak saat ini, Amerika Serikat akan menyerang dan menghancurkan berbagai PEMBANGKIT LISTRIK mereka, DIMULAI DARI YANG TERBESAR,” tulis Trump di Truth Social pada pukul 23:44 GMT dari kediamannya di Florida.
Ia tidak menjelaskan pembangkit mana yang dimaksud sebagai yang terbesar.
Setelah ancaman Trump, militer Iran mengatakan akan menargetkan semua infrastruktur energi milik AS di kawasan jika infrastruktur bahan bakar dan energi Iran diserang.
Komentar eskalatif Trump muncul hanya sehari setelah ia berbicara tentang “mengakhiri” perang yang ia mulai bersama Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu pada 28 Februari, ketika AS dan Iran sedang terlibat dalam negosiasi nuklir.
Dalam unggahan media sosial pada hari Jumat, Trump mengatakan AS “sangat dekat untuk mencapai tujuan kami saat kami mempertimbangkan untuk mengakhiri upaya militer besar kami di Timur Tengah”.
Iran mengatakan Selat Hormuz terbuka untuk semua pihak kecuali AS dan sekutunya, dengan Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi mengatakan minggu lalu bahwa ia telah “dihubungi oleh sejumlah negara” yang mencari jalur aman bagi kapal mereka.
“Ini tergantung pada keputusan militer kami,” katanya kepada jaringan televisi AS CBS.
*(Marieska Harya Virdhani/DISWAY.ID)











